Beranda Riau Puluhan Tahun Berkarya, Datuk TIJ Terima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2021 dari Kemendikbudristek...

Puluhan Tahun Berkarya, Datuk TIJ Terima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2021 dari Kemendikbudristek RI

33
Print Friendly, PDF & Email

RIAU (Infosiak.com) – Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudyaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memberi Anugerah Kebudayaan Indonesia 2021 kepada Taufik Ikram Jamil atau akrab disapa TIJ.  Puluhan tahun berkarya dalam kebudayaan, ia telah memperlihatkan dedikasi yang tinggi sebagai pelopor dan pembaru.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Raja Yoserizal Zen mengatakan, anugerah tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Mendikbudristek No. 379/P/2021 tanggal 29 November 2021 yang ditandatangani Menteri Nadiem Anwar Makarim.

Dalam SK itu terdapat juga sejumlah nama lain dengan berbagai keahlian dan kategori. TIJ diusulkan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Tanjungpinang yang wilayah kerjanya meliputi empat provinsi di Sumatra termasuk Riau.

Menurut Yose, TIJ melalui saringan yang ketat sebelum dinyatakan menerima anugerah tersebut, apalagi pada tahun ini, anugerah dengan ketegori pelopor dan pembaru itu diberikan kepada lima orang dari sekitar 150 orang yang dicalonkan dari berbagai wilayah Indonesia, padahal tahun-tahun sebelumnya berjumlah 10 orang.

Baca Juga:  Gubernur Riau Minta Seluruh Bupati dan Walikota Dirikan Posko Siaga Karhutla

Tim anugerah Kemendikbudristek di bidang ini, sampai harus memverfikasikan kepeloporan dan kepembaruan TIJ  ke Riau, yang dipimpin Bens Leo, seorang kritikus seni terpandang dan baru berpulang ke alam baqa pekan lalu.

Pihak pemberi anugerah tersebut, akan datang ke Pekanbaru untuk menyerahkan tanda anugerah itu antara lain berupa pin emas, sertifikat, dan uang.

“Belum tahu,” katanya menjawab, apakah Pemprov Riau akan memberi bonus karena bagaimanapun, anugerah ini merupakan suatu prestasi yang juga dapat disandingkan dengam prestasi olahragawan. Apalagi tidak tiap tahun Riau memperoleh kesempatan menerima anugerah ini.

Lintas Seni
Taufik Ikram Jamil, lahir di Telukbelitung, Kab. Kepulauan Meranti, Riau, 19 September 1963. Menjabat sebagai Sekretaris Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Provinsi Riau,  ia telah menulis lebih dari 20 buku baik prosa maupun puisi dan kajian budaya, bahkan buku pelajaran budaya Melayu Riau untuk SD-SMA/ Sederajat. Buku terbarunya adalah Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Biografi Kesaksian.

Baca Juga:  Peralatan Minim, Panglima TNI Sebut Karhutla Kurang Terpantau

Selain itu, ia juga  terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan budaya, misalnya sebagai tim ahli penilaian karya sastra unggulan  untuk siswa SD-SMA sederajat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2019.  Beberapa penghargaan telah diraihnya. Yayasan Sagang menilai bukunya bertajuk Sandiwara Hang Tuah sebagai buku terbaik tahun 1997.

Sedangkan pada tahun 1998, cerpennya  yang bertajuk Pagi Jumat Bersama Amuk menjadi cerpen utama Indonesia menurut versi Dewan Kesenian Jakarta, menyusul romannya bertajuk Hempasan Gelombang sebagai salah seorang pemenang dalam sayembara di lembaga serupa.

Pusat Bahasa Depdikbud memberikan penghargaan untuk kumpulan cerpennya Membaca Hang Jebat sebagai karya sastra terbaik tahun 1999. Untuk kumpulan sajak, tersebab aku melayu masuk lima besar dalam Khatulistiwa Literary Award tahun 2010 dan disebut sebagai satu dari tiga kumpulan puisi penting tahun 2010 oleh majalah Tempo.

Buku puisi tersebab daku melayu memperoleh predikat buku puisi pilihan Hari Puisi Indonesia 2015. Ia juga memperoleh berbagai penghargaan baik dari pemerintah Provinsi Riau, Yayasan Sagang, dan PWI Riau seperti Budayawan Pilihan (2003) serta Seniman Perdana (2006).

Baca Juga:  BMKG Sebut Asap Karhutla di Riau Berpotensi Masuk ke Malaysia-Singapura

Karyanya juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, di antaranya di bawah judul What’s Left & Other Poems oleh BTW (2015) dalam tiga bahasa. Buku-bukunya juga sempat menjadi objek kitab khatam kaji sejumlah mahasiswa baik untuk S-1 maupun S-2 di Pekanbaru, Yogya, Solo, bahkan di Belanda.

“TIJ dinilai tidak saja karena karya sastra, tetapi lintas seni sampai upaya pewarisan dan praktisi pemangku adat. Tim misalnya, selain karya sastra, juga terkesan dengan tindakannya membuka Akademi Kesenian Melayu Riau, berada di DKR sejak 90-an, bahkan berupaya menulis buku sekolah untuk budaya sejak tahun 2012,” kata Kadis Kebudayaan Riau, Yoserizal lebih lanjut tentang kiprah suami dari Umi Kalsum dan ayah dari tiga anak ini.

Laporan: Atok

loading...