Beranda Pendidikan Kisah Perjuangan Mantan Siswi SMP di Perawang, Tangan Hancur Tersentrum Listrik 33000...

Kisah Perjuangan Mantan Siswi SMP di Perawang, Tangan Hancur Tersentrum Listrik 33000 volt

6933
0
BERBAGI
alterntif text

PADANG (Infosiak.com) – Usianya masih sangat muda ketika peristiwa itu terjadi. Sebuah peristiwa, yang nantinya akan mengubah perjalanan hidup Tiara, mahasiswa Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand).

Meskipun hidup tanpa dua tangan, Tiara mampu membuktikan. Ia bisa survive menghadapi kehidupan.

Bahkan, kini, Asisten Trainer Karakter Andalasian Unand itu sebentar lagi akan mengeluarkan buku perdananya, yang ditulis dengan susah payah.

Bisakah Anda membayangkannya?

Saat itu, Tiara masih duduk di bangku kelas 3 sebuah SMP di Perawang, Kabupaten Siak. Ia sedang membantu ayahnya membersihkan saluran air, ketika tiba-tiba besi yang digunakan, menyentuh kabel listrik bertegangan 33.000 volt.

Tubuhnya langsung terjerembab ke atas genangan air. Padahal, setrum tak terlepas, tubuh kecilnya terasa disedot. Dia melihat seperti ada kembang api di depan matanya. Kedua tangannya terbakar hangus seperti arang, bagai meleleh. Sebagian kaki juga terbakar.

“Karena kecelakaan tersengat listrik itu, tangan kakak meleleh dan jari-jari berserakan. Perawat dan dokter harus mengumpulkannya dan meminta supir ambulance bergegas ke rumah sakit,” ungkap Tiara saat memberikan motivasi bagi siswa SMK Semen Padang, seperti yang ditulis Henny Herwina di akun Facebook-nya.

Begitu dahsyatnya sengatan listrik 33.000 volt yang akhirnya membuat listrik di seluruh Perawang, saat itu langsung mati total.

“Saya tetap sadar tapi tak merasa sakit atau nyeri. Yang terasa adalah badan seperti berada di dalam kulkas. Dingin dan kemudian saya jatuh koma,” ungkap Tiara, seperti yang ditulis Dr Henmaidi Alfian, Dosen Fakultas Teknik Unand, di akun Facebook-nya.

Tiara segera dilarikan ke Puskesmas terdekat. Namun, pihak Puskesmas angkat tangan dan Tiara lalu dirujuk ke rumah sakit di Pekanbaru. Dia dilarikan ke atas ambulan. Suara ambulan meraung, tapi takdir Allah, ambulan itu kehabisan bahan bakar.

Mereka harus berhenti di stasiun pengisian bahan bakar terdekat. Masalah belum selesai, ternyata ambulans ditunggu oleh antrian yang panjang.

Sebagian orang yang tak paham tak mau mengalah memberikan prioritas, meski dokter telah berteriak. “Ada pasien kritis!”.

Ambulans itu setengah jam menunggu pada antrian, dengan pasien kesengat listrik dalam keadaan koma dan kritis di atasnya. Kadang-kadang, di situlah rasa empati diperlukan.

Selesai mengisi bahan bakar, ambulance bersiap untuk berlari kencang namun disambut lagi oleh kemacetan panjang. Ternyata, itu sebagai akibat kecelakaan truk dengan minibus.

Lagi-lagi ambulans itu harus menunggu tanpa ada pilihan, sementara pasien kritis sedang ada di dalamnya

“Apa daya jalanan macet karena ada kecelakaan lalu lintas. Padahal, kedatangannyapun sudah terlambat karena kehabisan bensin,” ucap Tiara.

Sesampainya di sebuah rumah sakit di Pekanbaru, Tiara langsung dibawa ke ruang operasi. Luka bakarnya dibersihkan kemudian dimasukkan ke UGD.

Selama delapan hari, Tiara harus dirawat di UGD untuk memulihkan kondisi tubuh yang hangus terbakar. Keputusan amputasi diambil 20 hari kemudian, ketika bagian tubuh yang telah mati dari awalnya di sekitar pergelangan tangan, sekarang menjalar ke arah pangkal lengan.

Kedua tangan Tiara harus dipotong. Tangan kiri tinggal lima centimeter, sedangkan tangan yang kanan hanya sampai siku.

Setelah beberapa lama kemudian, sang gadis kecil terbangun. Ia mendapati kedua tangannya tak ada lagi. Dia syok, panik dan rasa takut tiba-tiba memenuhi rongga dadanya lalu histeris menangis pilu. Ada rasa Tuhan tidak adil. Ada rasa cemas dan takut yang begitu menghujam yang memupuskan harapan hidup.

Baca Juga:  Demi Kualitas Pendidikan yang Merata, TA 2018/2019 Kemendikbud akan Mutasi Guru Bertahap

Dia ingin mati saja, tak terbayang bagaimana menghadapi kehidupan dengan tubuh cacat tanpa tangan seperti ini. Siapa pun yang menyaksikan keadaan gadis kecil itu betul-betul tak sanggup menahan tumpahan air mata yang menetes dari sudut sudut mata.

Perawat, sahabat, apa lagi keluarga dilanda terpaan rasa haru yang mengaduk sanubari. Seorang psikolog ditugaskan untuk mendampinginya, mambangkitkan semangatnya yang nyaris terkikis.

Keadaan itu berlangsung beberapa lama sampai akhirnya gadis kecil itu tersadar bahwa ada susuatu yang nyaris lupa dia syukuri yaitu dia masih hidup.

Allah masih memberikannya kehidupan. Bagaimana seandainya dia mati. Apa persiapan yang akan dibawa menghadapi alam akhirat? Amal apa yang bisa dibanggakan?

Terbayang kehidupan selama ini, anak yang baru beranjak remaja, yang penuh hura-hura, shalat sering ditinggalkan.

Jika Allah takdirkan mati, akan bagaimana kehidupan kekal nanti?. Alhamdulillah ya Allah!. Engkau masih memberikan kesempatan, kesempatan hidup yang kedua.

Dengan tekad untuk memperbaiki diri, memperbaiki ibadah, memperbaiki keikhlasan. Demikian, ternyata dibalik bencana, ada sikap yang harus dibangun, yakni sabar sekaligus mensyukuri, bahwa masih banyak nikmat yang Allah berikan.

Sabar dan syukur, itu tidaklah ringan, kecuali bagi yang ikhlas dan dikuatkan oleh Allah. Karena selama kita hidup, ujian belum akan berakhir.

Gadis kecil itu bagaikan terlahir kembali. Lahir sebagai orang yang baru, dengan semangat yang baru dengan tekad yang baru meskipun tidak mudah.

Dia harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang tak lagi seperti dahulu. Kini dia tatap masa depan walau tanpa tangan.

mtq ali

Motivasi, inspirasi dan semangat yang diberikan oleh psikolog yang mendampinginya Alhamdulillah mampu membangkitkan kembali semangat hidupnya.

Terbersitlah keinginan, suatu saat nanti dia ingin menjadi seorang psikolog. Proses penyembuhan berlangsung cukup lama. Penyembuhan fisik dan sekaligus penyembuhan psikis. Dia harus beristirahat selama 1 tahun setamat SMP.

Saat kawannya masuk SMA, dia masih berjuang membangun semangat hidup. Gadis remaja ini tak mau jadi beban orang lain. Dia mencari inspirasi dari orang-orang yang juga memiliki kekurangan seperti dirinya.

Googling, melihat dari YouTube, mempelajari bagaimana cara untuk mandiri. Ternyata di dunia ini ada orang lain yang pernah diuji juga oleh Allah dengan kekurangan anggota tubuh. Mereka berhasil menyesuaikan diri dengan keadaannya itu.

Sang gadis kecil dengan tangan kiri hanya sepanjang 5 centimeter di pangkal lengan dan tangan kanan sampai ke siku ini mulai berfikir. Bagaimana caranya agar bisa mandiri, bisa menulis. Dia menjepitkan pena di kedua sisa tangannya, dia coba berlatih menulis dan itu tak mudah. Tangan yang belum seutuhnya sembuh itu terkadang berdarah, tergores dan lecet-lecet.

Tapi dia berfikir kalau ingin mendapatkan hasil yang manis maka dia harus tahan terhadap ujian ini. Kalau hanya mengeluh, keluhan itu hanya akan menambah penderitaan.

Toh, keluhan tak akan membuat tangannya utuh kembali!. Ternyata dalam satu bulan dia telah mampu menulis.

Kenyataan itu menambah keyakinan bahwa dia nanti akan dapat bersekolah sebagaimana orang-orang normal lainnya. Dia ingin buktikan bahwa dia memiliki kesempatan yang sama dibanding orang-orang lain.

Baca Juga:  Silaturahmi Perdana, BKSPP Siak Sambangi Ponpes Bustanul Ulum Dayun

Allah Maha Kuasa, gadis remaja itu akhirnya lulus dari SMA. Dia ikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Takdir Allah, cita-cita yang sudah digoreskan di hatinya untuk menjadi psikolog akhirnya mendekati kenyataan. Dia diterima sebagai mahasiswi jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Allahu Akbar!

Rasa bangga, rasa haru dan rasa syukur bercampur campur betapa Allah Maha Adil membukakan jalan bagi orang-orang yang mau bersabar dalam menjalani kehidupan.

Tenyata bukan itu saja, Allah memberikan jalan lain baginya untuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Dia mendapatkan beasiswa Bidikmisi, beasiswa yang mengcover biaya kuliah ditambah dengan biaya hidup sehari-hari.

Itu memang tak cukup mengingat biaya hidupnya jauh melampaui kebutuhan hidup mahasiswa lain. Meski sudah dapat mandiri untuk mengurus keperluan pribadinya namun ketiadaan tangan membuatnya kesulitan untuk beberapa keperluan seperti mencuci pakaian. Mau tak mau dia harus menggunakan jasa laundry.

Di samping itu tak mungkin dengan kondisi begitu dia tinggal di asrama dalam kampus. Tempat tinggalnya harus dicari yang mudah diakses.

Dia harus mengontrak kamar, dan itu membutuhkan biaya lainnya. Beruntung untuk sekedar menutupi kekurangan biaya hidup tersebut keluarga masih dapat mengusahakannya.

Dalam keadaan demikian, dia berhasil menyelesaikan semester pertama, sebagai mahasiswa jurusan Psikologi dengan IP lebih dari 3.5.

Tak cukup disitu, perjalanan hidup penuh ujian, kesabaran dan perjuangan itu, dituangkannya dalam bentuk tulisan, menjadi sebuah buku.

Hasilnya? Sebuah penerbit besar di Jakarta, telah bersiap meluncurkannya.

Masya Allah, hebat!. Ternyata Allah masih memberikan ujian untuk makhluknya ini. Pada fase berikutnya, datang goncangan baru. Papanya jatuh sakit sehingga tak dapat bekerja lagi. Kehidupan keluarga tentulah terpengaruh signifikan.

Masalah baru muncul, biaya hidup sehari-hari tak lagi mencukupi. Ibunya sedang mencoba untuk merintis usaha berjualan makanan, membuat kue atau apa saja yang bisa diusahakan untuk bertahan hidup.

“Papa sakit sehingga tak lagi bisa bekerja”, begitu ujarnya kepada seorang dosen yang rajin memantau perkembangannya.

“Uang tinggal untuk biaya hidup dua hari ke depan”, sambungnya. Entah dengan apa gemuruh di hatinya harus disembunyikan. “Dua bulan lagi, uang kontrak kamar setahun ke depan juga sudah harus dibayar”.

Sang dosen tercenung mendapatkan informasi ini. Berat betul jalan hidup yang harus ditempuh mahasiswi yang satu ini. “Mungkin saya harus istirahat kuliah dulu, Bu!. Biaya hidup tidak cukup”.

Suatu yang sangat berat, harus dia sampaikan. Tapi keadaan memaksa, apalah daya. Subhanallah. Ujian demi ujian kembali datang menghampiri mahasiswi ini.

Menjalani hidup sebagai orang cacat, tanpa tangan tidaklah mudah. Sangat tidak mudah!. Dia harus menyesuaikan diri, takut menghadapi orang, ada rasa minder.

Dengan penuh semangat, penuh perjuangan, akhirnya bisa menjadi mahasiswa. Sekarang dihadapkan pada masalah baru, biaya hidup tak lagi mencukupi untuk hidup di Padang, meski sudah dapat beasiswa…

Ya Allah!. Apakah mahasiswi hebat ini harus berhenti kuliah karena kesulitan biaya?

Tidak! Saudara-saudaramu tidak akan membiarkan itu terjadi. Bapak-bapakmu, ibu-ibumu, baik yang kenal atau tak kenal. Mereka tidak akan membiarkanmu menanggung beban sendirian.

Mereka selama ini cuma tak tahu tentang kisah hidupmu. Percayalah! InsyaAllah, ada jalan.


Sumber : Tribunnews
Editor : Afrijon

ali

Komentar Facebook Disini Bro

orang komentar