Beranda Lifestyle Ternyata LGBT Paling Berisiko Penularan HIV

Ternyata LGBT Paling Berisiko Penularan HIV

1077
0
BERBAGI
alterntif text

PEKANBARU (Infosiak.com) – Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad (RSUD-AA) dr. Nuzelly Husnedi, MARS, menyampaikan kekhawatirannya terkait semakin tingginya penemuan baru kasus HIV dan AIDS di Provinsi Riau. Ini terpantau dari sejumlah pasien yang datang berobat ke RSUD-AA.

“Untuk penyebarannya memang tidak mengenal apa profesinya, bahkan ada orang profesional dan hingga tenaga buruh kasar sudah terjangkit,” ujar Nuzelly.

Ini terpantau saat pasien menjalani pengobatan di rumah sakit dan saat dilakukan pengecekan darah, ternyata si pasien positif mengidap penyakit berbahaya tersebut.

“Anehnya lagi ada yang tidak sadar mereka sudah terinfeksi penyakit itu, terutama ibu rumah tangga ditularkan suaminya,” ujar Nuzelly.

Sebagaimana data di Dinas Kesehatan Riau, 93 persen dari kasus HIV dan AIDS di Riau terdeteksinya penyakit tersebut melalui rumah sakit, dimana yang bersangkutan menderita sakit dan saat dites darah ternyata positif mengidap.

“Biasanya setelah positif mengidap penyakit itu langsung diberikan pendampingan, karena kita tahu secara mentalnya akan langsung down,” ujar Nuzelly.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir menjelaskan jika dibandingkan tahun 2016 silam, periode yang sama hingga Oktober, memang angka temuan kasus HIV dan AIDS di Provinsi mengalami penurunan di tahun 2017.

Pada 2016 silam 318 HIV dan 253 AIDS. Sedangkan tahun ini periode yang sama hanya 171 HIV dan AIDS 109 kasus.

mtq ali

“Namun itu bukan prestasi, karena dalam penanggulangan HIV semakin banyak ditemukan kasus berarti semakin banyak yang tertolong, dan untuk AIDS tolak ukurnya tingkat kematian tidak banyak,” ujarnya.

Untuk distribusi kasus baru HIV faktor risiko di Provinsi Riau dari 2013 – 2017 berdasarkan data di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Riau, risiko penularan yang dominan masih disebabkan heteroseksual atau lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

Dari jumlah kasus temuan sebanyak 2.488 kasus, risiko heteroseksual 1.110 kasus dan homoseksual 294. Biasanya pelaku biseksual lebih banyak terutama yang sudah memiliki keluarga.

Meningkatnya tren kasus risiko pendistribusian melalui heteroseksual ini sudah terjadi sejak dua tahun terakhir, dimana tahun 2016 silam juga heteroseksual lebih dominan.

“Kegiatan ini biasanya terselubung, makanya kami mengharapkan agar masyarakat juga memberitahu agar kita masuk bagaimana pencegahan kesana,” ujar Mimi.

Meskipun saat ini sudah ada juga pendampingan dilakukan pihak KPA untuk komunitas LGBT yang ada di Pekanbaru dengan memberikan edukasi dan menganjurkan pemakaian alat kontrasepsi menghindari penularan penyakit HIV dan AIDS tersebut.

“Jika sudah positif HIV kami akan mendampingi untuk tetap bertahan dan jangan sampai meningkat menjadi AIDS,” ujar Mimi yang didampingi Bidang Program KPA Helmi.

Bagaimanakah aktivitas komunitas Gay di daerahmu?

Sumber : Tribun
Editor : Afrijon

ali

Komentar Facebook Disini Bro

orang komentar