Beranda KESEHATAN Ingat!!! Masker Bedah ‘Hijau’ Tak Mampu Halau Partikel Kabut Asap

Ingat!!! Masker Bedah ‘Hijau’ Tak Mampu Halau Partikel Kabut Asap

282
Print Friendly, PDF & Email

JAKARTA (Infosiak.com) – Luasnya kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumatera dan Kalimantan membuat kabut asap semakin pekat. Sehingga sejumlah warga mengalami gangguan kesehatan, dan sulit melakukan aktivitas di luar rumah. Hal ini tentu tidak terlepas dari kabut asap yang masih menyelimuti daerah mereka.

Karenanya, untuk mencegah terjadinya Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap, Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) menyarankan masyarakat untuk menggunakan masker. Tapi, tidak semua masker bisa menghalau kabut asap, hanya masker N95 yang mampu.

Masker N95/(Gambar Beritagar)

Sayangnya, hingga saat ini masih banyak yang belum mengetahui fungsi dan tata cara menggunakan masker tersebut. Dokter Agus mengatakan bahwa masker N95 disarankan untuk kasus-kasus kebakaran hutan, karena dapat menyaring partikel halus berukuran 0,5-2.5 mikron sampai dengan 95 persen.

Baca Juga:  Mulai 2019, Honorer dan Perangkat Desa di Siak Terima Kartu BPJS Kesehatan

“N itu artinya non-oil based partikel atau partikel yang tidak mengandung minyak. Sementara 95 artinya dapat menyaring partikel halus hingga 95%,” tuturnya saat dihubungi Okezone via sambungan telepon.

Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia-RSUP Persahabatan ini melanjutkan, memang dari segi harga masker N95 relatif lebih mahal, namun bila digunakan secara benar masker ini jauh lebih efektif dibanding simple masker atau masker biasa yang hanya mampu menyaring sekitar 30%-40% partikel halus seperti kabut asap kebakaran.

Baca Juga:  2 Siswinya Terjangkit DBD, Guru SMP YPPI Halangi Wartawan Lihat Lingkungan Sekolah

Kendati demikian, Agus menegaskan, tidak semua populasi atau individu bisa menggunakan masker N95. Contohnya anak-anak, ibu hamil, orang tua, atau orang yang memiliki riwayat penyakit paru-paru.

“Kelemahan masker ini harus digunakan dalam kondisi benar-benar rapat. Jadi tidak nyaman karena bisa menyebabkan tahanan dalam bernapas atau breathing resistance. Ibu hamil, anak-anak, dan orang tua itu kan membutuhkan pernapasan yang lebih lega,” ungkap Dokter Agus.

Baca Juga:  BPJS Kesehatan Pelajari Tawaran Kerja Sama Dengan Perusahaan Asuransi Cina

Agus juga mengimbau masyarakat yang berada di daerah terdampak kebakaran hutan dan lahan, untuk terus melakukan pemantauan kualitas udara. Bila kondisi Air Quality Index (AQI) tidak sehat atau menyentuh angka lebih dari 150, sebaiknya menggunakan masker N95 bila terpaksa beraktivitas di luar.

“Kalau tidak ada kegiatan sebaiknya tinggal di dalam rumah saja. Tapi perlu diingat, di dalam rumah pun harus benar-benar tertutup. Pintu dan jendela semuanya harus ditutup rapat supaya partikel-partikel tidak masuk. Disarankan pula menggunakan AC yang memiliki fitur air circulation,” tukasnya.

Sumber : Okezone
Editor : Afrijon

loading...