Beranda Pariwisata ‎Jembatan Sukaramai Peninggalan Sultan XI, Jofrizal : Itu Sebelumnya Benteng Pertahanan

‎Jembatan Sukaramai Peninggalan Sultan XI, Jofrizal : Itu Sebelumnya Benteng Pertahanan

21
0
BERBAGI

SIAK (Infosiak.com) –  Jembatan Sukaramai merupakan merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan masa kejayaan Kerajaan Siak, jembatan di samping kiri depan istana Siak ini dibangun pada masa Kerajaan Siak dipimpin oleh Sultan Syarif Kasim ke XI atau Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin.

Meski tidak begitu besar, Jembatan Sukaramai ini dahulu merupakan akses utama yang menghubungkan istana Istana Siak Sri Inderapura atau Istana Asserayah Hasyimiah atau juga dikenal Istana Matahari Timur dengan Pasar Sukaramai atau yang kini disebut pasar lama dan Kampung Dalam.

Ketua UMUM Siak Heritage Community Jofrizal didampingi Ketua Harian Wan Ilham Saputra saat diwawancarai akhir pekan lalu menjelaskan, jembatan itu dibangun untuk akses melintasi suwak, suwak merupakan anak sungai buatan, sungai itu buat bermuara ke Sungai Siak dan memiliki fungsi tersendiri.

“Jembatan itu dibangun setelah pembangunan Istana Siak selesai, posisi jembatan sebelumnya Suwak, Suwak yang dibuat sebagai benteng serta akses kapal masuk dari Sungai Siak menuju ke Istana,” terang Jofrizal.

Baca Juga:  Pelari Kenya Juarai Ivent Marathon Siak 10K

Senada disampaikan oleh Buyawan Riau OK Nizami Jamil, menurut OK tanah galian suwak itu diambil untuk membuat benteng. “Di zaman Sultan ke-7 Istana dibuat dari batang Nibung. Istana dikelilingi dengan bangunan benteng pertahanan yang di atasnya diletakan meriam,” terang OK.

Menurut OK jumlah benteng dulu sangat banyak, dari pinggir sungai Siak sampai ke tempat dibangunnya RSUD Tengku Rafian sekarang. Ok sangat menyaangkan benteng yang menjulang tinggi di sekiling istana diratakan. “Benteng diruntuhkan untuk menimbun pasar, sayang, dulu waktu saya sama kawan-kawan masih kecik sering main manjat ke atas benteng. Jumlah benteng banyak, dari pinggir Sungai sampai ke RSUD itu ada benteng,” terang OK.

Menurut OK, Jembatan Raya di Jalan Raya itu dahulu merupakan jalan utama menuju Istana yang hari ini masih terjaga. Ia menilai banyak sejarah dari jembatan itu, meski ukuranya kecil, namun kontruksinya tetap kokoh hingga hari ini.

Baca Juga:  Siak Segera Seleksi Bujang dan Dara Tahun 2016
alterntif text

Penjelasan yang sama diutarakan oleh Tatang Sarpawi, menurut Tatang dahulu masyarakat menyebut jalan raya itu dengan Tambah Darat, sementara Tambak laut adalah jalan di depan masjid Syahbudin. “Arsiteknya orang belanda, jaman kerajaan itu merupakan jalan utama,” terang Tatang.

Terpisah, Ketua Umum Masyarakat Peduli Kabupaten Siak Wan Hamzah menilai jembatan itu merupakan cagar budaya, memiliki nilai sejarah, harus dijaga keutuhanya. “Pertama harus jidaja, diatur jangan sampai kendaran angkutan melintas di sana. Kedua, seharusnya dibuat plang di sana, sebagai tanda jembatan itu merupakan situs cagar budaya, sekaligus dikasi keterangan sejarah singkat pada plang itu. Jaman sekarang orang hoby selfie, jadi dengan orang foto selfie di jembatan itu dan diunggah ke medsos tentu akan membantu kita promosi wisata,” usul Wan Hamzah.

Baca Juga:  Terima Mobnas Baru, Anggota DPRD Siak Diminta Lebih Merakyat

Sementara Kepala Dinas PU dan Tarcip Siak Irving Kahar Arifin mengaku telah menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi kerusakan jembatan peninggalan Sultan Siak XI itu. “itu warisan kota pusaka yang harus kita jaga untuk diwariskan ke anak cucu kita,” kata Irving Kahar Arifin.

“Kami telah melakukan kajian teknis pada jembatan itu, kalau dilihat pondasinya cor beton, cuma dangkal. Meski sekarang terlihat kuat, namun semakin lama tentu kekuatannya akan berkurang. Untuk itu kami berencana membuat perbub, bagaimana mengatur agar yang melintas di jembatan itu hanya pejalan kaki,” kata Irving.

Menurut Irving, lebag jembatan itu hanya 4,5 meter. Kontruksinya adalah beton dengan menggunakan bahan batu bata.

Pantauan lapangan, di kiri kanan pagar jembatan tercantum keterangan yang ditulis pada batu granit, tulisan arab melayu itu menjelaskan nama Jalan Alsyariyah dan tangal pembuatan jembatan pada 25 Agustus 1899.(lam)

http://www.infosiak.com/

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here