Beranda Headline Opini Bahaya LGBT Bagi Generasi Muda

Bahaya LGBT Bagi Generasi Muda

530
0
BERBAGI
alterntif text

AKHIR-akhir ini publik dikejutkan dengan maraknya kasus LGBT Lesbian, gay, biseksual, transgender) dimana berdasarkan data terakhir Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2012, ada sekitar 1.095.970 laki-laki yang berperilaku menyimpang. Jumlah ini naik 37% dari tahun ke tahun, fenomena LGBT ini kian meresahkan karna banyaknya negara yang memperbolehkan pernikahan sejenis ini, dan mengkampanyekan LGBT atas dasar HAM (Hak asasi manusia) membuat setiap warga terutama orang tua menjadi bingung dalam menghadapinya,ada banyak faktor yang menjadikan seseorang LGBT salah satunya pengalaman trauma, pengalaman buruk di masa lalu yang terus melekat di dalam hati dan menimbulkan trauma juga dituding menjadi penyebabnya misal pengalaman trauma dikasari dan dianiaya yang membuat si anak beranggapan semua laki-laki atau perempuan bersikap kasar,sehingga anak menjadi pelaku penyimpangan seksual.

Diyakini, jumlah penganut homoseksual akan meningkat setiap tahunnya,upaya penangkalan wabah LBGT tidak akan berhasil tanpa adanya kesadaran dari semua pihak untuk bergerak. Dimulai dengan pendidikan seks yang mesti diberikan kepada anak sedini mungkin, namun bahasanya tetap disesuaikan dengan tingkat umur dan pedidikannya, selain agama, hukum LGBT di Indonesia sendiri juga mendapatkan kecaman. banyak yang menganggap LGBT adalah hal yang tidak pantas dan membahayakan. Fenomena tersebut tentulah sangat disayangkan mengingat akan dapat merusak kehidupan para penderita dan para pengidap LGBT juga dapat menularkan penyakit yang berbahaya,seperti penyakit HIV/AIDS yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya.

Baca Juga:  Meriahkan HUT RI ke-73, Pemcam Siak Taja Turnamen Piala Camat Cup II
DPRD

Ada beberapa solusi untuk mengatasi berkembangnya LGBT diindonesia antara lain sebagai berikut :
Pertama, pentingnya pendidikan agama sejak dini, dalam islam Allah SWT sudah melarang keras hamba-Nya agar tidak masuk golongan orang-orang yang menyukai sesama jenis, seperti LGBT. Al-Quran sebagai sumber ajaran agama Islam di dalamnya terdapat sejarah masa lampau yang pernah di alami oleh Nabi Luth dengan kaumnya. Dimana kaum Luth sangat terkenal dengan saling menyukai sesama jenis dan akhirnya mendapatkan adzab yang sangat pedih. Ini pertanda bahwa Allah sangat tidak menyukai orang yang saling menyukai sesama jenis, Pandangan islam terhadap LGBT jelas bertitik tolak dari pengetahuan tentang fitrah manusia dan usaha pemenuhan seksualnya agar setiap individu dalam masyarakat tidak melampaui batas-batas fitrahnya. Artinya, LGBT diharamkan dalam Islam dalam kondisi apapun, karena hal itu merupakan perbuatan yang dikutuk oleh Allah Swt. begitu juga yang disampaikan IKAT (Ikatan alumni timur tengah aceh) Aceh, yaitu perbuatan LGBT merupakan kelainan seks yang diharamkan oleh Allah Swt. Perilaku LGBT ini juga sangat bertentangan dengan norma agama, norma sosial dan bertentangan pula dengan sunatullah dan fitrah manusia itu sendiri, sebab allah SWT telah menjadikan manusia berpasang-pasangan sebagai suami istri yang sah dan mendapatkan keturunan yang sah dari hubungan yang sah pula.

Baca Juga:  Meriahkan HUT RI ke-73, Pemcam Siak Taja Turnamen Piala Camat Cup II

Kedua, pendidikan moral, pendidikan moral mestilah ditanamkan sejak dini, dimana orang tua berperan aktif dalam membentuk karakter anak sesuai dengan nilai-nilai kesopanan dimasyarakat. Orang tua harus menjadi teladan didalam keluarganya karena anak akan membutuhkan sosok teladan dalam berperilaku sehari-hari. dengan adanya pendidikan moral meningkatkan kesadaran bagi anak, Kembali lagi pada peran pendidikan moral sebagai upaya pencegahan terhadap arus budaya barat yang negatif. Penyimpangan terhadap penafsiran HAM telah menjadikan problem serius dalam kehidupan. Pendidikan harus menjadi tempat penyadaran dan pemulihan mereka yang mengalami ketidakwajaran dalam bergaul. Boleh saja, kampus atau sekolah membahas mengenai kelainan seks , homo, lesbian, dan sejenisnya namun harus dalam koridor agama dan dibentengi oleh keimanan yang kuat. Bukannya malahan sebagai tempat mensosialisasikan kebebasan LGBT dan kebebasan memilih pasangan.

Ketiga, adanya pengawasan dari keluarga,lingkungan sekitar,orang tua dan guru yang menjadi orang tua kedua harus meningkatkan komunikasi kepada anak secara intensif. Hal ini menjadi salah satu cara untuk menjaga nilai-nilai moral pada anak. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi perilaku anomoli dalam kehidupan sosial, semisal LGBT ,tentu kita ingin orang-orang yang kita cintai senantiasa ada dijalan yang benar, sesuai norma agama dan norma sosial bukan? Apakah dengan cara frontal, marah-marah,memaki bahkan dengan menyambuknya dengan ikat pinggang akan membuatnya berubah? Cara kasar belum tentu bisa mengubah sikap seseorang tapi kita harus mendekatinya dari dalam yaitu dari cara berfikirnya,kita boleh menjelaskan dan menyampaikan informasi terkait nilai-nilai positif, yaitu membuatnya menjauhi lingkungannya semula, mengubah dandanan atau mengubah tampilan fisiknya, tentunya dengan teknik yang halus dan lembut, perlahan tapi pasti.

Keempat, perlunya pembinaan terhadap pelaku LGBT. Menurut penulis pelaku LGBT tidak selayaknya dikucilkan mereka mestilah dibina dan berikan motivasi untuk keluar dari lingkungan yang buruk tersebut. Seharusnya kita harus merangkul dan mengasihi mereka dengan penuh kepedulian sesama karena kita diciptakan Tuhan untuk saling menasehati dalam kebajikan, mengajak kebaikan, dan mencegah kemungkaran. Para pemimpin dan tokoh serta ahli Psikologi juga perlu melakukan penyuluhan dan pendekatan kepada media agar mencegah penyebaran praktik LGBT, Mendukung orang-orang yang sadar dari LGBT dangan sarana dan prasarana agar dapat berhimpun dan menyadarkan dirinya dalam menjalani kehidupan dan melaksanakan aktifitas penyadaran kepada para LGBT. Upaya pemulihan kelainan ini juga perlu dengan menyadarkan mereka untuk mau hidup normal dan menyukai lain jenis. Penulis juga berharap agar pemerintah juga wajib andil dalam pemulihan penyimpangan sosial ini agar terciptanya suasana masyarakat yang damai dan tentram. Melalui lembaga konsultasi saraf dan seksual maupun psikolog yang diterjunkan untuk membantu mereka yang dalam penyimpangan seks.

Memang LGBT itu bukan kejahatan, tetapi memiliki potensi menghasilkan kejahatan,seperti kekerasan seksual dan tindakan agresif terhadap nilai-nilai publik, namun demikian LGBT juga dapat muncul sebagai dampak dari interaksi sosial yang keliru, hal itu menempatkan bahwa para penyandang LGBT bisa saja merupakan pelaku sekaligus korban, yang kedua-duanya perlu mendapat perhatian yang tepat agar mereka bisa menyesuaikan diri dalam masyarakat yang normal, merespon maraknya kejahatan seksual terkait dengan LGBT, masyarakat harus mampu mengembangkan kewaspadaan sosialnya, begitu pula negara tidak bisa lepas tangan dan diam saja, negara memiliki kewajiban untuk menjaga nilai-nilai dan standart moral yang dianut oleh publick mayoritas. LGBT merupakan penyimpangan orientasi seksual yang dilarang, terlebih lagi oleh agama islam, karna perbuatan tersebut akan merusak kelestarian manusia, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban manusia untuk melawan segala jenis opini atas nama HAM yang membela kaum LGBT, sesungguhnya mereka membawa manusia menuju kerusakan yang lebih parah, dengan pengetahuan generasi muda yang cukup banyak mengenai penyimpangan seksual dan free seks maka diharapkan dapat terhindar dari hal-hal yang merusak moral dan perilakunya.


Penulis : Sulistyawati
Mahasiswa IEC (Istana education collage)
Beralamat di jalan sudirman kec sei. Apit
Kabupaten Siak

Komentar Facebook Disini Bro

orang komentar