Beranda Headline Legenda Kota Tua di Siak, yang Musnah Menjelang Fajar

Legenda Kota Tua di Siak, yang Musnah Menjelang Fajar

365
0
BERBAGI
alterntif text

SIAK (Infosiak.com) – Pada masa Pemerintahan Sultan Syarif Hasyim, di Negeri Siak Sri Indrapura terdapat sebuah kawasan di tepian Sungai Jantan yang menjadi pusat perekonomian masyarakat Siak. Kawasan tersebut dihuni oleh orang kulit putih bermata sipit atau lebih dikenal dengan sebutan warga Tionghoa.

Seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut berangsur-angsur menjadi sebuah kota kecil yang setiap hari dipadati oleh para pedagang dan pembeli, sehingga dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, kawasan tersebut berubah menjadi sebuah pasar.

Bahkan pada masa Pemerintahan Sultan Syarif Hasyim, kawasan yang mayoritas dihuni oleh warga Tionghoa itu dijadikan sebagai pusat ekonomi Kerajaan Siak. Karena di sana juga terdapat lokasi pelabuhan rakyat (tempat bongkar muat barang dagangan, red). Sebagaimana dikemukakan oleh Mantan Camat Siak H Syamsuar M.Si yang bergelar Datuk Setia Amanah.

“Pasar ini sejak masa Sultan Syarif Hasyim telah menjadi kawasan pusat ekonomi Kerajaan Siak. Dibangun tak jauh dari Istana Siak, dan berada di tepian Sungai Siak. Selain pasar, dulunya juga menjadi lokasi pelabuhan rakyat dan ada juga bangunan sejarah lainnya. Jadi patutlah musibah ini menjadi duka bagi kita semua,” papar mantan Camat Siak H Syamsuar M.Si, usai meninjau Pasar Siak lama.

Ketika masa Kesultanan Siak berakhir, pasar yang berlokasi di tepian Sungai Siak itu masih tetap eksis. Bahkan saat Siak masih menjadi kecamatan (bagian dari Kabupaten Bengkalis, red), pasar itulah satu-satunya tempat pusat perbelanjaan bagi masyarakat Siak dan sekitarnya. Sehingga setiap kali orang menyebut atau bercerita tentang Kota Siak, maka kota yang dimaksud adalah kawasan pasar tersebut.

Dengan telah menjadi sebuah pusat perbelanjaan (pasar, red), kawasan tersebut lama kelamaan semakin ramai. Sehingga warga Tionghoa yang menempati kawasan itu mulai menjadikan rumahnya sebagai bagian dari toko (tempat mereka berjualan, red).

Baca Juga:  Awas,,, Penyakit Ini Sering Muncul Setelah Lebaran

Berikut nama-nama toko milik warga Tionghoa yang pernah eksis di pasar lama “Kota Tua” Siak.

-Toko Johan.
-Toko Kamto
-Toko Prima
-Toko Purnama
-Toko Cendrawasih
-Toko Surya
-Toko Dinasty
-Toko Bahagia
-Toko Cahaya Bintang.
-Toko Cemerlang.
-Toko Hero
-Toko Indah
-Toko Tenaga Baru.
-Toko Sentosa.
-Toko Acu (jual parang, red).

-Toko Valentin
-Toko Kedai Suka Ramai.
-Toko Evi
-Toko Baru
-Toko Selamat I.
-Toko Selamat II
-Toko Tunas Jaya.
-Toko Harapan Jaya.
-Toko Cimpu.
-Toko Abadi.
-Toko Murni.
-Penginapan Harmonis.
Dan masih banyak lagi yang tidak tersebutkan.

ali

Selain terdapat toko-toko milik warga Tionghoa, di kawasan pasar Siak lama (Kota Tua, red) itu juga terdapat blok (tempat khusus, red) untuk menjual sayur-mayur, ikan, daging, dan buah-buahan. Yang kala itu disebut dengan istilah “lokasi pasar trans”.

Pada tahun 1983, terjadi musibah kebakaran yang meluluhlantakkan lokasi pasar trans dan sekitarnya. Namun, tidak lama kemudian, lokasi pasar trans yang terbakar tersebut ditata kembali oleh masyarakat. Berselang sekitar 10 tahun kemudian (1990an, red), di sekitar lokasi pasar trans kembali terjadi kebakaran. Hingga akhirnya perbaikan fasilitas pasar harus kembali dilakukan.

Tahun demi tahun berlalu, pada tahun 1999 Siak (Kecamatan Siak, red) memisahkan diri dari Kabupaten Bengkalis, dan menjadi sebuah kabupaten baru di wilayah Provinsi Riau. Dan sejak itu, mulailah Siak disebut sebagai “Kabupaten Siak”.

Setelah menjadi kabupaten, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Siak berkomitmen untuk menjadikan daerah Siak ini sebagai daerah yang maju dan berkembang. Salahsatunya dengan membangun fasilitas pasar di setiap kecamatan.

Baca Juga:  Pilgubri 2018 Tinggal Menghitung Hari, 4 Ketua KPU di Riau Mengundurkan Diri

Dengan telah dibangunnya pasar-pasar di setiap kecamatan, termasuk dibangunnya Pasar Belantik dan Pasar Seni di wilayah Kota Siak, serta berdirinya pasar-pasar tradisional (pasar mingguan, red) di sejumlah kampung, aktivitas jual-beli di Pasar Kota Siak lama mulai terlihat sepi, termasuk aktivitas di toko-toko milik warga Tionghoa tersebut.

Untuk menjaga kelestarian dan keasriaan Pasar Siak lama tersebut, pada beberapa tahun silam Pemkab Siak melakukan renovasi terhadap seluruh bangunan (rumah/toko, red) milik warga Tionghoa yang ada di sana, Dan menetapkan kawasan itu sebagai kawasan Cagar Budaya Daerah Siak dengan sebutan Kampung Pecinan alias China Town.

Dengan telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, kawasan China Town diharapkan bisa menjadi salahsatu penunjang Kepariwisataan di Kabupaten Siak. Selain lokasinya yang strategis (di tepian Sungai Jantan, red), kawasan China Town juga berada tidak jauh dari lokasi Istana Assyerayah Al Hasyimiah Siak.

Namun, apa boleh buat, malang tak dapat dielak, untung tak dapat ditebak, pada Sabtu (17/02/2018) dini hari menjelang fajar, kawasan China Town yang merupakan bagian dari sejarah panjang “Kota Tua” di Siak Sri Indrapura itu tiba-tiba berubah menjadi lautan api. Akibatnya, puluhan bangunan rumah/toko milik warga Tionghoa yang ada di sana ludes/musnah tak tersisa.

Sabtu (17/02/2018) Pagi menjelang siang, cerita tentang “Kota Tua” Kampung Pecinan Siak yang ludes dilalap api tersiar hingga ke penjuru Nusantara, akahkah terlahir/terbangun kembali (seperti semula, red) China Town di kawasan tersebut.? (Tok)

ali

Komentar Facebook Disini Bro

orang komentar